Harjanto Halim, Sang Insan Inklusi Kesadaran Pajak

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Bukan berlatar belakang sebagai guru, dosen, pengajar, ataupun pakar pendidikan. Bukan pula seseorang yang berkecimpung secara khusus dalam dunia pendidikan. Akan tetapi sosoknya telah dikenal luas sebagai seorang pemerhati dunia pendidikan, dan mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk kemajuan pendidikan. Kepeduliannya akan dunia pendidikan tidak saja tercermin dalam berbagai gagasan pribadinya, tetapi juga melalui narasi tulisannya. Dialah Harjanto Halim.

Harjanto (baca: Haryanto), demikian ia akrab disapa, adalah seseorang yang berlatar belakang sebagai pengusaha yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Ia merupakan pendiri dan pemilik perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman dengan produk yang telah menasional. Tidak cukup daripada itu, ia juga dikenal sebagai sosok budayawan, pemerhati pariwisata dan UMKM, pengurus aktif Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), serta ketua perkumpulan Boen Hian Tong Semarang. Sosoknya yang dermawan juga dikenal sebagai seorang filantropis serta pembicara ulung. Ia kerap diundang dalam berbagai forum diskusi lintas agama dan forum-forum kebudayaan. Kini, ia juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Sekolah Nasional Karangturi Semarang.

Tidak saja soal pendidikan, Harjanto juga menaruh kepedulian besar soal pajak. Ia telah lama didapuk sebagai “Duta Pajak” oleh Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jawa Tengah I dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan Edukasi Perpajakan kepada masyarakat. Tutur bahasanya dan kobaran semangatnya selalu berhasil memotivasi hingga mengubah perilaku lawan bicara atau pendengarnya. Atas perhatiannya terhadap pendidikan dan pajak, tidak salah jika Kanwil DJP Jawa Tengah I menggandengnya sebagai “Duta Inklusi Kesadaran Pajak”.

Dengan sederet agenda dan aktivitasnya yang padat, Harjanto sama sekali tidak berkeberatan saat tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I menghubunginya untuk berdiskusi. Dalam pertemuan pertama yang digelar terbatas di ruang Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Kanwil DJP Jawa Tengah I itu, Harjanto menyampaikan tentang pemikirannya yang visioner akan muatan kesadaran pajak dalam pendidikan. Benar saja, tak lama sepulang pertemuan itu, sebuah pesan pada aplikasi Whatsapp dikirimkan kepada Kepala Seksi Bimbingan Penyuluhan dan Pengelolaan Dokumen yang berisi narasi hasil pemikirannya. Berikut adalah nukilan narasinya.

“Pajak dan NPWP adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi tidak pernah diajarkan atau dikenalkan semenjak dini. Malah urusan MK, DPR, partai, yang belum tentu dijumpai dalam kehidupan, diajarkan. Mungkin (pajak) bisa masuk melalui pelajaran PKN mulai jenjang SD, SMP, SMA. Materinya tidak usah terlalu formal atau njlimet. Yang ringan-ringan dulu, pengenalan tentang pajak dan manfaatnya."

Menjadi dosen tamu

Dalam kesempatan lain, Harjanto sengaja mengosongkan agendanya secara khusus untuk menjadi pembicara dalam kuliah umum mahasiswa di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Kegiatan bertajuk Tax Goes to Campus (TGTS) tersebut merupakan bagian dari edukasi peningkatan kesadaran perpajakan yang diselenggarakan oleh Bidang P2Humas  Kanwil DJP Jawa Tengah I kepada mahasiswa sebagai calon Wajib Pajak masa depan. Kebetulan Harjanto pernah menjadi dosen tamu di universitas tersebut, sehingga cukup mudah baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan civitas akademika. Bermodalkan gaya bertutur dan humornya yang kekinian, pesan yang disampaikannya dapat diterima mudah oleh para generasi milenial.  

“Membayar pajak merupakan kewajiban yang harus dimulai dengan kesadaran. Kesadaran itu harus digugah dan pola pikir kita harus dibetulkan,” ungkap Harjanto Halim pada sesi diskusi TGTC. “Kalau sudah ada kesadaran, harus diikuti dengan kerelaan. Rela membayar pajak, saat mbayar pajak harus dengan kebanggaan,” tambahnya. “Kebanggaan seorang Warga Negara Indonesia yang sudah merdeka bukan bawa bambu runcing lagi, tapi datang ke KPP, saya mau mbayar pajak atau ngisi e-filing lapor pajak. Itulah kebanggaan, itulah kewajiban seorang warga negara,” tutupnya dengan diiringi riuh tepuk tangan 250 mahasiswa yang hadir kala itu. 

Penghubung dengan pihak mitra

Harjanto tidak pernah sekalipun menolak permintaan untuk menjadi endorser pajak. Bahkan dalam setiap pengambilan video testimoni ataupun kampanye pelaporan pajak, Harjanto dapat berceramah dengan lancar berdasarkan inisiatif pribadi. Dengan kapasitasnya sebagai pemengaruh serta lingkaran relasinya yang luas, Harjanto juga membantu dalam upaya pengembangan program Inklusi Kesadaran Pajak pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Ia menghubungkan tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I dengan pihak pengurus Sekolah Nasional Karangturi yang dinaunginya. Selain itu, Harjanto juga menjembatani pertemuan tim inklusi kesadaran pajak Kanwil DJP Jawa Tengah I dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri, S.H., M.M.

Pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang itu pun berbuah manis. Tindak lanjut kegiatan terkait implementasi program inklusi kesadaran pajak pada 326 SD dan 44 SMP negeri di Kota Semarang akan segera dicanangkan. Kick off  program yang sekiranya berlangsung pada tahun 2020 tersebut harus ditunda akibat pandemi Covid-19 dan direncanakan akan kembali direalisasikan pada tahun 2021 kali ini.

Penghargaan insan inklusi

Atas berbagai insight berharga yang telah disumbangkan Harjanto Halim khususnya dalam program Inklusi Kesadaran Pajak dalam pendidikan, Kepala Kanwil DJP Jawa Tengah I memberikan apresiasi tertinggi baginya. Andilnya yang besar terhadap pendidikan dan pajak merupakan panggilan jiwa pribadi yang patut diapresiasi. Penganugerahan penghargaan sebagai insan Inklusi Kesadaran Pajak tersebut diberikan bagi pihak yang telah membantu dan berperan dalam upaya menumbuhkan kesadaran pajak di lingkup Kanwil DJP Jawa Tengah I. Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dalam gelaran Tax Gathering Wajib Pajak Besar KPP Madya Semarang pada (Selasa, 15/10/19). Perusahaan Harjanto memang menjadi salah satu wajib pajak badan yang diundang dalam acara tersebut. Pemberian penghargaan dalam rangkaian kegiatan tax gathering tersebut diambil berdasarkan pertimbangan bahwa, upaya yang dilakukan Harjanto Halim dapat mempengaruhi wajib pajak besar lainnya untuk melakukan hal serupa.

Seperti biasa, selepas penghargaan disematkan padanya, sebuah narasi dikirimkan kepada tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I. Berikut sekilas isi narasinya.

“Pajakku Nusantaraku. Saya yakin yang bayar pajak tidak hanya orang Jawa saja, atau Tionghoa saja. Semua etnis pasti bayar pajak. Demikian pula, tidak hanya orang Islam yang bayar pajak, orang Hindu, Buddha, Kristen, juga bayar pajak. Pajak sangat dibutuhkan negara untuk membangun jalan tol, membangun bandara, menghidupkan lampu di jalanan. Dan kantor pajak - dengan segala kekurangan dan masalahnya - adalah instrumen negara yang paling efektif untuk menghimpun dana dari masyarakat yang nantinya akan didistribusikan, mudah-mudahan, secara merata dan mangkus untuk kemaslahatan banyak orang.”

"Dan saya yakin, kita semua pasti senang, krasan, tinggal di sini, karena bisa bekerja dan mencari penghasilan, makanannya enak, pemandangannya indah. Jika ndak enak, pasti sudah pindah ke negara lain. Meski kondisi sedang lesu, Kita tetap harus memenuhi kewajiban. Tidak usah lebai bayar berlebihan. Hehehe. Cukup bayar sesuai aturan dan ketentuan. Minimal itulah yang bisa kita lakukan sebagai warga negara - membayar pajak. Dan satu lagi...selalu mengingatkan sesama pengusaha, teman, untuk memenuhi kewajiban."

Di akhir narasinya, ia menutup kalimatnya dengan, “Usai bicara, saya diminta naik ke panggung. Ternyata saya diberi penghargaan sebagai insan inklusi kesadaran pajak. Hmm, sungguh tak terduga. Saya merasa senang dan sangat terhormat, tapi saya tidak merasa terbebani. Saya telah menjalani dan meyakini, mengingatkan sesama pengusaha adalah kewajiban yang tak kalah penting. Saya yakin.”

Harjanto Halim dengan himpunan pemikiran visionernya merupakan mitra berharga Direktorat Jenderal Pajak dalam menyebarluaskan kesadaran pajak di masyarakat. Daya persuasinya mampu “menjual” pajak sebagai komoditi yang tidak untuk dihindari melainkan untuk dicintai. Seperti harapannya, semoga di masa depan tercetaklah generasi emas Indonesia masa depan yang cerdas dan sadar pajak untuk Indonesia yang lebih maju. 

Penulis : Ika Hapsari, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.


© 2021 Direktorat Jenderal Pajak