• Pengumuman Juara Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, Ini Daftarnya
  • Pengumuman Juara Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, Ini Daftarnya
  • Pengumuman Juara Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, Ini Daftarnya
  • Pengumuman Juara Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, Ini Daftarnya
  • Pengumuman Juara Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, Ini Daftarnya
  • Pengumuman Juara Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, Ini Daftarnya

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

DJP mengumumkan pemenang Lomba Cipta Cipta Game Edukasi Perpajakan bertema Pajak Kuat Indonesia Maju secara virtual pada Rabu (14/7). Penjurian dilakukan oleh juri internal dan juri eksternal. Juri internal terdiri dari Kepala Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan Inge Diana Rismawanti, Penyuluh Pajak Ahli Madya Yudha Wijaya, Kepala Seksi Pengelolaan Situs Riza Almanfaluthi, dan Kepala Seksi Dukungan Penyuluhan Ika Retnaningtyas. Sedangkan juri eksternal terdiri dari Wakil Ketua Asosiasi Game Indonesia Adam Ardisasmita, Game Developer at Shopee Yanu Chandra Ashari, dan Editor in Chief Gamereactor Indonesia Arya Wiryawan Wibowo.
Diikuti oleh 55 peserta yang terdiri dari kategori SD tidak ada peserta yang ikut berpartisipasi, kategori SMP sebanyak 6 peserta, kategori SMA sebanyak 8 peserta, dan kategori umum sebanyak 41 peserta. melalui proses penjurian ketat DJP memutuskan 9 pemenang utama dan 2 peserta favorit. Juara favorit diberikan untuk menggantikan kategori SD dikarenakan hingga batas waktu yang ditentukan belum ada yang mengirimkan karya.
Untuk kategori SMP, karya Alphard Qodaruddin berjudul Taxman dari SMP Istiqomah Bandung terpilih menjadi juara 1 dan karya Wyandhanu M. N. berjudul HaloPajak dari SMPN 1 Nagreg menjadi juara 2. Untuk kategori SMA, karya Sendok Bengkok Team berjudul Kita Taat Pajak dari SMKN 2 Cimahi berhasil menjadi juara 1 dan karya KONSEN Creative berjudul Pajakarta dari Global Multimedia Creative School menjadi juara 2. Sedangkan untuk kategori umum, dipilih 5 pemenang yaitu Autowin dengan karya berjudul Yuk Taat Pajak Yuk didapuk menjadi juara 1, Anti Coding Team dengan karya berjudul Jakbot sebagai juara 2, Amin Hanif Mahmud dengan karya berjudul Taxsim sebagai juara 3, Wodjaotech dengan karya berjudul Si-Paman sebagai juara 4, dan Riko Reky Londong dengan karya berjudul Petualang si Rajak sebagai juara 5.

Untuk memainkan 11 game edukasi perpajakan para juara dapat mengunjungi laman https://edukasi.pajak.go.id/games-pajak.html. Dengan begitu, belajar pajak menjadi semakin menarik dengan cara yang menyenangkan.


Selamat kepada para juara dan terus berkarya!


 
  • DJP Umumkan Juara Tutur Pajak
  • DJP Umumkan Juara Tutur Pajak
  • DJP Umumkan Juara Tutur Pajak

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Setelah melalui penjurian babak akhir pada 21 Agustus 2021, DJP akhirnya mengumumkan peserta mana yang keluar sebagai juara dalam kegiatan Lomba Tutur Pajak 2021. Karya yang telah diterima hingga hari penutupan pada 17 Agustus 2021 telah melebihi ekspektasi. Secara umum, kategori pemenang dibagi 2 yaitu kategori komik strip dan artikel. Kegiatan lomba ini diselenggarakan dalam rangka peningkatan kesadaran pajak dan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-76.
Pemenang diumumkan pada puncak acara Pajak Bertutur 2021 pada hari Rabu tanggal 25 Agustus 2021 melalui siaran langsung secara daring pada akun Youtube Ditjen Pajak RI dari Studio 16 Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Pengumuman juga dipublikasikan pada akun resmi media sosial DitjenPajakRI. Pemberian piagam penghargaan dilakukan secara virtual diserahkan oleh Direktur P2Humas Kantor Pusat DJP Neilmaldrin Noor bersama Koordinator TERC FEB UI Christine Tjen kepada para pemenang.
Pemenang Kategori Komik Strip Subtema 1 Edukasi Perpajakan dalam Pembentukan Karakter Future Tax Payers yaitu:
1.    Juara 1 Muhammad Fuad Azhar Bakhtiar dengan judul Pajak untuk Kita Semua
2.    Juara 2 Aghni Ghofarun Auliya dengan judul Manfaat Pajak
3.    Juara 3 Yul Chaidir dengan judul Superhero Penagih Pajak
Pemenang Kategori Artikel Subtema 2 Dekat dengan Pajak yaitu:
1.    Juara 1 Paramytha Magdalena Sukarno Putri dengan judul Pajakku Bertepuk Sebelah Tangan?
2.    Juara 2 Muhamad Rahmat dengan judul Pajak itu Serupa Oksigen
3.    Juara 3 Triana Wulandari dengan judul Mengenalkan Pajak dari Kacamata Sederhana Guna Meningkatkan Kepedulian dan Ketaatan pada Negara
Pemenang Kategori Artikel Subtema 3 Aku Bangga Bayar Pajak yaitu:
1.    Juara 1 Dedy Ariadi dengan judul Pajak Dariku, Membangun Tanah Airku
2.    Juara 2 Jamila Lestyowati dengan judul Pajakku Untukmu: Cinta yang Terungkapkan
3.    Juara 3 Herry Purwono dengan judul Membayar Pajak Sebagai Indikator Keberhasilan


Harjanto Halim, Sang Insan Inklusi Kesadaran Pajak

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

Bukan berlatar belakang sebagai guru, dosen, pengajar, ataupun pakar pendidikan. Bukan pula seseorang yang berkecimpung secara khusus dalam dunia pendidikan. Akan tetapi sosoknya telah dikenal luas sebagai seorang pemerhati dunia pendidikan, dan mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk kemajuan pendidikan. Kepeduliannya akan dunia pendidikan tidak saja tercermin dalam berbagai gagasan pribadinya, tetapi juga melalui narasi tulisannya. Dialah Harjanto Halim.

Harjanto (baca: Haryanto), demikian ia akrab disapa, adalah seseorang yang berlatar belakang sebagai pengusaha yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Ia merupakan pendiri dan pemilik perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman dengan produk yang telah menasional. Tidak cukup daripada itu, ia juga dikenal sebagai sosok budayawan, pemerhati pariwisata dan UMKM, pengurus aktif Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), serta ketua perkumpulan Boen Hian Tong Semarang. Sosoknya yang dermawan juga dikenal sebagai seorang filantropis serta pembicara ulung. Ia kerap diundang dalam berbagai forum diskusi lintas agama dan forum-forum kebudayaan. Kini, ia juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Sekolah Nasional Karangturi Semarang.

Tidak saja soal pendidikan, Harjanto juga menaruh kepedulian besar soal pajak. Ia telah lama didapuk sebagai “Duta Pajak” oleh Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jawa Tengah I dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan Edukasi Perpajakan kepada masyarakat. Tutur bahasanya dan kobaran semangatnya selalu berhasil memotivasi hingga mengubah perilaku lawan bicara atau pendengarnya. Atas perhatiannya terhadap pendidikan dan pajak, tidak salah jika Kanwil DJP Jawa Tengah I menggandengnya sebagai “Duta Inklusi Kesadaran Pajak”.

Dengan sederet agenda dan aktivitasnya yang padat, Harjanto sama sekali tidak berkeberatan saat tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I menghubunginya untuk berdiskusi. Dalam pertemuan pertama yang digelar terbatas di ruang Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Kanwil DJP Jawa Tengah I itu, Harjanto menyampaikan tentang pemikirannya yang visioner akan muatan kesadaran pajak dalam pendidikan. Benar saja, tak lama sepulang pertemuan itu, sebuah pesan pada aplikasi Whatsapp dikirimkan kepada Kepala Seksi Bimbingan Penyuluhan dan Pengelolaan Dokumen yang berisi narasi hasil pemikirannya. Berikut adalah nukilan narasinya.

“Pajak dan NPWP adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi tidak pernah diajarkan atau dikenalkan semenjak dini. Malah urusan MK, DPR, partai, yang belum tentu dijumpai dalam kehidupan, diajarkan. Mungkin (pajak) bisa masuk melalui pelajaran PKN mulai jenjang SD, SMP, SMA. Materinya tidak usah terlalu formal atau njlimet. Yang ringan-ringan dulu, pengenalan tentang pajak dan manfaatnya."

Menjadi dosen tamu

Dalam kesempatan lain, Harjanto sengaja mengosongkan agendanya secara khusus untuk menjadi pembicara dalam kuliah umum mahasiswa di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Kegiatan bertajuk Tax Goes to Campus (TGTS) tersebut merupakan bagian dari edukasi peningkatan kesadaran perpajakan yang diselenggarakan oleh Bidang P2Humas  Kanwil DJP Jawa Tengah I kepada mahasiswa sebagai calon Wajib Pajak masa depan. Kebetulan Harjanto pernah menjadi dosen tamu di universitas tersebut, sehingga cukup mudah baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan civitas akademika. Bermodalkan gaya bertutur dan humornya yang kekinian, pesan yang disampaikannya dapat diterima mudah oleh para generasi milenial.  

“Membayar pajak merupakan kewajiban yang harus dimulai dengan kesadaran. Kesadaran itu harus digugah dan pola pikir kita harus dibetulkan,” ungkap Harjanto Halim pada sesi diskusi TGTC. “Kalau sudah ada kesadaran, harus diikuti dengan kerelaan. Rela membayar pajak, saat mbayar pajak harus dengan kebanggaan,” tambahnya. “Kebanggaan seorang Warga Negara Indonesia yang sudah merdeka bukan bawa bambu runcing lagi, tapi datang ke KPP, saya mau mbayar pajak atau ngisi e-filing lapor pajak. Itulah kebanggaan, itulah kewajiban seorang warga negara,” tutupnya dengan diiringi riuh tepuk tangan 250 mahasiswa yang hadir kala itu. 

Penghubung dengan pihak mitra

Harjanto tidak pernah sekalipun menolak permintaan untuk menjadi endorser pajak. Bahkan dalam setiap pengambilan video testimoni ataupun kampanye pelaporan pajak, Harjanto dapat berceramah dengan lancar berdasarkan inisiatif pribadi. Dengan kapasitasnya sebagai pemengaruh serta lingkaran relasinya yang luas, Harjanto juga membantu dalam upaya pengembangan program Inklusi Kesadaran Pajak pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Ia menghubungkan tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I dengan pihak pengurus Sekolah Nasional Karangturi yang dinaunginya. Selain itu, Harjanto juga menjembatani pertemuan tim inklusi kesadaran pajak Kanwil DJP Jawa Tengah I dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri, S.H., M.M.

Pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang itu pun berbuah manis. Tindak lanjut kegiatan terkait implementasi program inklusi kesadaran pajak pada 326 SD dan 44 SMP negeri di Kota Semarang akan segera dicanangkan. Kick off  program yang sekiranya berlangsung pada tahun 2020 tersebut harus ditunda akibat pandemi Covid-19 dan direncanakan akan kembali direalisasikan pada tahun 2021 kali ini.

Penghargaan insan inklusi

Atas berbagai insight berharga yang telah disumbangkan Harjanto Halim khususnya dalam program Inklusi Kesadaran Pajak dalam pendidikan, Kepala Kanwil DJP Jawa Tengah I memberikan apresiasi tertinggi baginya. Andilnya yang besar terhadap pendidikan dan pajak merupakan panggilan jiwa pribadi yang patut diapresiasi. Penganugerahan penghargaan sebagai insan Inklusi Kesadaran Pajak tersebut diberikan bagi pihak yang telah membantu dan berperan dalam upaya menumbuhkan kesadaran pajak di lingkup Kanwil DJP Jawa Tengah I. Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dalam gelaran Tax Gathering Wajib Pajak Besar KPP Madya Semarang pada (Selasa, 15/10/19). Perusahaan Harjanto memang menjadi salah satu wajib pajak badan yang diundang dalam acara tersebut. Pemberian penghargaan dalam rangkaian kegiatan tax gathering tersebut diambil berdasarkan pertimbangan bahwa, upaya yang dilakukan Harjanto Halim dapat mempengaruhi wajib pajak besar lainnya untuk melakukan hal serupa.

Seperti biasa, selepas penghargaan disematkan padanya, sebuah narasi dikirimkan kepada tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I. Berikut sekilas isi narasinya.

“Pajakku Nusantaraku. Saya yakin yang bayar pajak tidak hanya orang Jawa saja, atau Tionghoa saja. Semua etnis pasti bayar pajak. Demikian pula, tidak hanya orang Islam yang bayar pajak, orang Hindu, Buddha, Kristen, juga bayar pajak. Pajak sangat dibutuhkan negara untuk membangun jalan tol, membangun bandara, menghidupkan lampu di jalanan. Dan kantor pajak - dengan segala kekurangan dan masalahnya - adalah instrumen negara yang paling efektif untuk menghimpun dana dari masyarakat yang nantinya akan didistribusikan, mudah-mudahan, secara merata dan mangkus untuk kemaslahatan banyak orang.”

"Dan saya yakin, kita semua pasti senang, krasan, tinggal di sini, karena bisa bekerja dan mencari penghasilan, makanannya enak, pemandangannya indah. Jika ndak enak, pasti sudah pindah ke negara lain. Meski kondisi sedang lesu, Kita tetap harus memenuhi kewajiban. Tidak usah lebai bayar berlebihan. Hehehe. Cukup bayar sesuai aturan dan ketentuan. Minimal itulah yang bisa kita lakukan sebagai warga negara - membayar pajak. Dan satu lagi...selalu mengingatkan sesama pengusaha, teman, untuk memenuhi kewajiban."

Di akhir narasinya, ia menutup kalimatnya dengan, “Usai bicara, saya diminta naik ke panggung. Ternyata saya diberi penghargaan sebagai insan inklusi kesadaran pajak. Hmm, sungguh tak terduga. Saya merasa senang dan sangat terhormat, tapi saya tidak merasa terbebani. Saya telah menjalani dan meyakini, mengingatkan sesama pengusaha adalah kewajiban yang tak kalah penting. Saya yakin.”

Harjanto Halim dengan himpunan pemikiran visionernya merupakan mitra berharga Direktorat Jenderal Pajak dalam menyebarluaskan kesadaran pajak di masyarakat. Daya persuasinya mampu “menjual” pajak sebagai komoditi yang tidak untuk dihindari melainkan untuk dicintai. Seperti harapannya, semoga di masa depan tercetaklah generasi emas Indonesia masa depan yang cerdas dan sadar pajak untuk Indonesia yang lebih maju. 

Penulis : Ika Hapsari, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.


  • Game Edukasi Pajak

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Yuk mari mainkan game edukasi pajak untuk menambah pengetahuanmu tentang pajak.
Terdapat 11 daftar permainan edukasi pajak sebagai berikut. Klik tautan di bawah ini untuk menuju halaman permainan.

  1. Yuk Taat Pajak Yuk
  2. Jakbot
  3. Taxsim
  4. Si Paman
  5. Petualangan Si Rajak
  6. Kita Taat Pajak
  7. Pajakarta
  8. Taxman
  9. Halo Pajak
  10. Lapor Yuk!
  11. Ayoo!! Pajak

Sempat Tertinggal, Kanwil DJP Jawa Tengah I Sukseskan Inklusi dengan Semangat Kolaborasi

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Setelah lama vakum, program Inklusi kesadaran Pajak Kanwil DJP Jawa Tengah I bergeliat kembali pada tahun 2019. Semangat untuk kembali mengejar ketertinggalan atas capaian program nasional ini, dimulai dengan melakukan satu langkah penting yaitu melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait.

Sebagaimana diketahui, kick off program inklusi secara nasional dimulai dalam kegiatan Pajak Bertutur pada 11 Agustus 2017. Peresmiannya ditandai dengan ditekennya Nota Kesepahaman antara Kementerian Keuangan dengan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Hal ini ditindaklanjuti oleh Kanwil DJP Jawa Tengah I sebagai unit vertikal DJP dengan melakukan penunjukan kampus piloting Inklusi Kesadaran Pajak di lingkungan Kanwil DJP Jawa Tengah I. Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang resmi menyandang predikat tersebut dan diresmikan dalam acara bimbingan teknis (bimtek) dosen mitra inklusi pada 13 Desember 2017 di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah. Dalam acara perdana ini, masih banyak terjadi mispersepsi yang terjadi di kalangan Perguruan Tinggi yang diundang dalam hal pengiriman perwakilan peserta bimtek. Bimtek yang sedianya menarget dosen Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) ini justru dihadiri oleh Staf Bagian Tata Usaha atau staf yang membidangi urusan perpajakan. Akibatnya, pesan inti yang disampaikan belum mencapai tujuan yang diharapkan.

Pada tahun 2018, tercatat ada dua agenda yang berkaitan dengan program Inklusi Kesadaran Pajak di lingkungan Kanwil DJP Jawa Tengah I. Pertama adalah pelatihan bagi Fasilitator Inklusi Kesadaran Pajak pada 5 Juli 2018. Kedua adalah penandatanganan PKS antara Kanwil DJP Jawa Tengah I dengan enam fakultas di UNTAG Semarang selaku kampus piloting Inklusi Kesadaran Pajak pada 15 Oktober 2018. Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan bimtek pembuatan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) bagi dosen MKWU di lingkungan UNTAG Semarang. Setelahnya, implementasi program ini pun sempat mengalami vakum atau berhenti berkegiatan.

Harapan baru

Satu tahun berselang tepatnya pada 15 Juli 2019, Kepala Seksi Bimbingan Penyuluhan dan Pengelolaan Dokumen Kanwil DJP Jawa Tengah I beserta segenap jajaran melakukan pemantauan dan evaluasi program di kampus piloting. Pertemuan tersebut dihadiri Rektor UNTAG Semarang, segenap pembantu rektor dan perwakilan dosen MKWU dari masing-masing fakultas. Rapat ini melahirkan Surat Keputusan Rektor UNTAG Semarang terkait implementasi program Inklusi Kesadaran Pajak untuk dipedomani. Tim Kanwil DJP Jawa Tengah I pun melakukan pemantauan dalam bentuk sit-in dalam kelas mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada 9 Oktober 2019.

Tahun 2019 merupakan tahun penting dalam tonggak sejarah capaian inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I. Banyak pekerjaan rumah yang harus diakselerasi pada tahun tersebut. Tim inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I mengawali upayanya dengan melakukan audiensi dengan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. DYP Sugiharto, M.Pd. Kons., pada 2 Agustus 2019 dan 4 November 2019. Menindaklanjuti masukan dari Kepala LLDIKTI untuk lebih dapat merangkul seluruh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Tengah, Kanwil DJP Jawa Tengah I melakukan koordinasi dengan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M. Kom., beserta jajaran pengurus pada 6 November 2019.

Rapat singkat tersebut menelurkan rencana besar yang akan dieksekusi bertepatan dengan kegiatan Pajak Bertutur dan peringatan Hari Guru pada 25 November 2019. Dikarenakan berbagai pertimbangan, acara pun dimajukan menjadi tanggal 21 November 2019 sehingga hanya ada waktu kurang dari dua minggu untuk mempersiapkan acara. Kanwil DJP Jawa Tengah I pun menggandeng Kanwil DJP Jawa Tengah II untuk bersinergi menyukseskan acara bertajuk Gathering Pimpinan Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah Dalam Rangka Pajak Bertutur Tahun 2019. Acara ini berlangsung di Wisma Perdamaian Semarang dan mengundang 266 Pimpinan PTS di bawah naungan APTISI Jawa Tengah. Setidaknya terdapat 3 agenda penting dalam acara ini yaitu penandatanganan PKS antara Kanwil DJP Jawa Tengah I dengan LLDIKTI dan APTISI Jawa Tengah, penganugerahan insan Inklusi Kesadaran Pajak, yaitu pihak-pihak yang telah membantu menyukseskan program Inklusi Kesadaran Pajak dalam pendidikan, serta pertukaran cinderamata dan penandatangan lampiran PKS oleh seluruh pimpinan PTS yang hadir. PKS dengan APTISI tersebut bersifat mengikat seluruh anggota APTISI Jawa Tengah untuk bergabung menyukseskanprogram Inklusi Kesadaran Pajak. Lompatan besar ini menjadikan Kanwil DJP Jawa Tengah I berhasil menggaet setidaknya 130 PTS dan menjadi salah satu Kanwil DJP dengan capaian inklusi tertinggi nasional.

Dari sisi internal, penegasan program dilakukan dengan penerbitan Surat Keputusan Kepala Kanwil DJP Jawa Tengah I nomor KEP-49/WPJ.10/2019 tentang Tim Fasilitator Inklusi Kanwil DJP Jawa Tengah I. Tim ini terdiri dari 136 koordinator dan Fasilitator Inklusi yang ditunjuk dari Kanwil DJP Jawa Tengah I, 16 KPP Pratama dan 5 KP2KP di lingkungan Kanwil DJP Jawa Tengah I. Jumlah ini menjadikan Kanwil DJP Jawa Tengah I sebagai Kanwil DJP dengan Fasilitator Inklusi terbanyak se-Indonesia. Oleh karenanya, diperlukan sasaran yang jelas dan seragam untuk menapaki tahapan demi tahapan implementasi inklusi. Peningkatan kapasitas dan kualitas Fasilitator pun dilaksanakan melalui disuksi kelompok terpumpun dan pelantikan Fasilitator Inklusi Kesadaran Pajak dalam pendidikan Kanwil DJP Jawa Tengah I pada 31 Januari 2020. Serangkaian pendampingan dan konsultasi dijadwalkan secara simultan antara tanggal 21 hingga 28 Februari 2020 sebagai bekal persiapan Fasilitator untuk mengeskalasi  kerja sama dengan Perguruan Tinggi mitra di wilayah kerjanya.

Pada akhir Februari hingga pertengahan bulan Maret 2020 seluruh tim Fasilitator pun bergerak bersama di wilayah kerjanya masing-masing. Mereka melakukan kunjungan silaturahmi untuk menemui pimpinan Perguruan Tinggi sekaligus mengingatkan kembali program Inklusi Kesadaran Pajak. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan ulang lampiran PKS inklusi sekaligus penyerahan buku MKWU dan cinderamata. Sayangnya, pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia di pertengahan Maret 2020 menyebabkan kegiatan tahap pertama pelaksanaan inklusi secara tatap muka terpaksa terhenti.

Bangkit Kembali

Meski kegiatan secara luring harus ditunda, kegiatan kampanye terkait Inklusi Kesadaran Pajak secara daring terus digalakkan. Sejumlah webinar dan kelas pajak daring diselenggarakan bekerja sama dengan pihak mitra inklusi seperti UNTAG Semarang, Universitas Dian Nuswatoro (UDINUS) Semarang, dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Tema yang diangkat terkait pelaporan SPT Tahunan PPh Badan dan Orang Pribadi secara daring, layanan pajak daring, dan insentif fiskal perpajakan dalam rangka mengatasi dampak pandemi Covid-19. Peserta webinar tidak saja dari kalangan akademis, melainkan juga Wajib Pajak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), asosiasi usaha, dan profesi lainnya. Hal ini membuktikan dukungan civitas akademika dalam edukasi perpajakan dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Semangat menindaklanjuti program inklusi kembali bergejolak jelang akhir tahun 2020. Sejumlah Fasilitator kembali bergerak mendatangi Perguruan Tinggi mitra yang belum dikunjungi, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pada 2 Desember 2020, diselenggarakan bimtek dosen mitra inklusi secara daring. Bimtek yang diikuti kurang lebih 100 dosen dari 89 Perguruan Tinggi mitra yang diundang ini merupakan tahapan kedua dari pelaksanaan program Inklusi Kesadaran Pajak pada tingkat Pendidikan Tinggi. Sedianya bimtek gelombang dua akan diselenggarakan pada tahun 2021 dengan mengundang Perguruan Tinggi mitra yang belum mengikuti bimtek gelombang pertama.

Masih banyak pekerjaan rumah yang menanti di tahun 2021 dan tahun-tahun mendatang untuk menyukseskan program Inklusi Kesadaran Pajak pada tingkat Pendidikan Tinggi. Pengintegrasian mata kuliah kesadaran pajak dengan menyisipkannya dalam RPS masih menemui banyak tantangan. Jalan panjang mencetak generasi emas Indonesia yang cerdas dan sadar pajak tahun 2045 masih terjal dan berliku. Sebaliknya, antusiasme dan penerimaan positif dari pihak mitra akan program ini merupakan kobaran asa untuk terus bergerak bersama. Gerbang jalinan kerja sama DJP dan mitra pendidikan Indonesia telah terbuka. Optimisme harus dipupuk, koordinasi harus terus dibentuk untuk generasi Indonesia sadar pajak kini dan nanti.

Penulis : Ika Hapsari, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.


© 2022 Direktorat Jenderal Pajak