Previous Next

Songsong Perubahan Lingkungan Perpajakan, ATPETSI Selenggarakan Lokakarya Inklusi Pajak

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Jakarta, 8 Agustus 2019. Bertempat di Lantai 7 Menara DDTC, Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi se-Indonsia (ATPETSI)  telah melaksanakan Lokakarya Inklusi Pajak dalam Pendidikan. Acara dibuka oleh Darussalam selaku Ketua ATPETSI. Kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan peran ATPETSI dalam mendukung implementasi Program Inklusi yang diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan. “Kita akan berdiskusi tentang apa yang bisa dilakukan dalam inklusi pajak sehingga pemahaman pajak secara benar dan tepat di kampus-kampus akan bisa terwujud dan dari kampus-kampus kita berharap pajak dapat berkembang lebih baik lagi dan mempunyai peran penting bagi pembangunan bangsa Indonesia” ungkap Darussalam.

“Program Inklusi ini dilaksanakan sebagai jawaban untuk memperbaiki kondisi kepatuhan perpajakan yang terjadi saat ini. Perlu sebuah upaya yang masiv, terstruktur dan berkelanjutan untuk menciptakan generasi bangsa yang cerdas, berkarakter cinta tanah air dan bela negara melalui kesadaran dan kepedulian terhadap pajak. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan”, demikian  ungkap Hestu Yoga Saksama, Direktur P2Humas DJP selaku keynote speaker dalam lokakarya tersebut. Inklusi pajak ini difokuskan untuk membangun karakter, sikap mental, dan budaya. Diharapkan setelah lulus nanti, mahasiswa akan membayar pajak baik sebagai karyawan ataupun pengusaha. Untuk itu telah dilakukan kerjasama dengan Kemenristikdikti dengan memasukkan muatan inklusi pajak dalam mata kuliah Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Pendidikan Agama.

Pembicara lainnya adalah Direktur Perpajakan Internasional DJP, John Hutagaol. Dalam paparannya, John mengatakan bahwa inklusi pajak merupakan modal dasar dalam membangun paradigma kepatuhan sukarela. Sektor pendidikan merupakan kunci berhasil atau tidaknya program inklusi pajak yang dilakukan oleh otoritas. “Inklusi pajak ini merupakan isu menantang karena tax ratio yang sangat rendah dari seharusnya dan membangun komunitas sadar pajak merupakan yang paling penting,” ungkapnya.

Universitas Gunadarma menjadi salah satu contoh implementasi program inklusi melalui peran tax center. Hal ini juga menjadikan Tax Center Universitas Gunadarama menjadi acuan pengelolaan Tax Center di Indonesia. Ketua Jurusan Sistem Informasi Universitas Gunadarma Setia Wirawan mengatakan salah satu kunci agar inklusi pajak bisa dilakukan secara menyeluruh di kampus adalah kuatnya struktur organisasi.  Setya mengatakan, “Inklusi pajak diajarkan pada seluruh program studi di Gunadarma dari jenjang D3 sampai S1 karena tax center menggunakan sistem sentralisasi yang bertanggungjawab langsung kepada institusi,”

Lokakarya ini dihadiri oleh pengurus Tax Center dari beberapa perguruan tinggi se-Indonesia. Peserta lokakarya mendapatkan informasi dan penjelasan lebih jauh tentang implementasi program inklusi serta memberikan masukan yang konstruktif untuk pengelolaan program inklusi. (af)