Sadar Pajak Memanusiakan Penulis

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
Dari beberapa seminar yang saya datangi, baru kali ini saya tidak merasa bosan. Seminar yang diadakan oleh Komunitas Satu Pena bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pajak yang dilaksanakan, Sabtu 8 Desember 2018. Kebetulan salah seorang perwakilan dari  DJP menjadi pemateri, sekalian seorang penulis karya sastra dalam bentuk puisi dan fiksi. Saya mengatakan tidak bosan bukan tanpa alasan, memang saat itu materi yang disampaikan sangat jauh berbeda dengan materi seminar pada umumnya.  Materi yang disampaikan hanya itu dan itu, yang sering diadakan di hotel-hotel berbintang dan berakhir kosong atau tindak lanjut yang masih kabur.
 
Beliau mengatakan, "Kata-kata seorang penulis adalah pedang-pedang." 
Yang dimaksud, menulis yang mampu memberi inspirasi banyak orang terutama diri penulis itu sendiri. 
Semakin tajam pedang, semakin banyak orang tertarik membacanya. Seperti yang digambarkan melalui pemutaran vidio berdurasi pendek.
 
Hal itu. memacu saya untuk lebih memfokuskan materi-materi yang dimaksudkan. Beliau juga menjelaskan pajak yang harus dibayarkan seorang penulis akan kembali pada penulis itu sendiri. Intinya, menjelaskan serta mengajak para pemuda untuk gemar membaca dan menulis. Selain itu, mengingatkan para penulis muda sadar pajak sebagai penjamin di masa yang akan datang.
 
Pada suatu ketika, saya menemukan titik kejenuhan terkait dunia tulis-menulis. Pemandu saya dan beberapa teman yang hadir dalam acara tersebut selalu berkata.  "Menulis lebih dari sekedar pekerjaan, "  kisah teha. Saat itu pula, saya kembali menumbuhkan semangat batu; baca tulis. Bahkan menjadikan tulisan adalah teman kemana saja saya pergi. Menulis juga obat anti depresan paling ampuh. Mungkin, yang dikatakan pemateri, sama dengan yang diucapkan beberapa  orang yang menuntun kami mirip.
 
Menurut pemateri selajutnya, proses membaca dan menulis akan tumbuh dengan pesat jika mengetahui sastra yang sebenarnya. Sastra sebagai penghantar Indonesia merdeka.
Jika cinta dengan sastra, pasti cinta tanah air, jika cinta tanah air , cinta membayar pajak. 
 
Selain itu, menulis bukan sekedar menghibur orang dengan hasil tulisan kita . Begitu juga dengan membaca. Penulis yang konsisten adalah penulis yang mampu mengasah otaknya menjadi cerdas. Kecerdasan itu yang saat ini jarang dibagi kepada generasi penerus masa depan bangsa yang mempunyai keinginan menulis. Sedang sastra hanya dianggap sebagai barang jualan yang tidak menarik sama sekali. Kita juga tidak serta merta menyalahkan para pemuda, jika yang tua saja jarang membagi ilmunya. Ada satu cara yang bisa menyelamatkan hal yang membawa Indonesia merdeka. Merubah pola pikir dan kembali membangun sastra sejak dini," kata Max lane. 
 
Saya  menyimpulkan, pihak DJP melakukan gebrakan yang tak terduga-duga dengan alasan   menjauhkan diri dari tidak yang melanggar norma kesusilaan. Contoh: plagiat,  korupsi, monopoli,  kekerasan terhadap anak, atau diwujudkan dalam bentuk barang yang mengatasnamakan, Hibah. Selain itu, berusaha membentuk karakter sadar pajak sejak muda dan/ atau menghasilkan penulis yang produktif .
 
Dari beberapa hal penting yang dapat saya tangkap. Sadar pajak memanusiakan penulis.
 
Jogjakarta, 081218 (Ari Kaysha)