Penyajak yang Berlayar ke Pajak

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
Inilah kelinci percobaan di laboratorium pendidikan

Memamah empat belas tangkai minum sistim-sistim

Sekali sedak kurun waktu dua tahun menggiurkan

Hari berkeping botak sebelum bertahun wisuda

Keluar dari Komputer di dada terpampang gelar-gelar

Membanggakan…hai! tiada lagi generasi santai

Awas!!! Kami generasi muda terbina!

 

Dalam Repelita jadi sasaran kamera utama

Kami janjikan tentang dunia dengan otak dan Ilmu

Tapi jangan salahkan, jika terpasang kepala berita di mass media:

“Seorang pelajar Tewas Kepintaran”

 

Demikian sajak berjudul “Pelajar 2000” karya Kasubdit Penyuluhan P2humas Direktorat Jenderal Pajak, Aan Almaidah Anwar yang ditulis tahun 1983 silam. Kala itu, Aan baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Denpasar, Bali. Sajak itu pula yang mengantarkannya masuk dalam enam penyajak terpilih yang karyanya diterbitkan dalam antologi Doa Bali Tercinta yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1987.

Bagi Aan, sajak yang digubah itu memang sangat berkesan dalam hidupnya. Sebab, ketika antologi itu diterbitkan, Menteri Pendidikan saat itu, Fuad Hassan menuliskan sebuah kalimat khusus untuknya. “Hanya rajawali yang berani terbang tinggi walau sendiri” demikian tulis sang menteri.

 “Kalimat itu sangat mendalam buat saya. Apalagi tulisan itu dipindah ke kanvas kemudian ditempelkan di pintu masuk ruang guru di SMP 1 Denpasar,” kenang perempuan kelahiran Denpasar, 27 Juli 1968 ini saat berbincang dengan Majalah Pajak di ruang kerjanya Jumat sore (26/5).

Seperti cermin, seni kerap menjadi pantulan dari realitas yang terjadi di tengah kehidupan. Demikian halnya yang Aan rasakan. Sajak “Pelajar 2000” merupakan ungkapan kelelahannya dalam menghadapi mata pelajaran dan bermacam kursus. Barangkali kala itu Aan tak sendiri. Kenyataannya, banyak sekali pelajar yang hari-harinya terperangkap dalam segudang aktivitas belajar yang boleh jadi bukanlah kehendak sendiri, melainkan obsesi orangtua atau bahkan para guru belaka. Mereka ingin anaknya juara, mereka ingin siswa-siswanya menorehkan prestasi bagi segudang prestise sekolah mereka. Untuk mewujudkan itu, terkadang seorang anak harus dijejali dengan berbagai aktivitas pengembangan diri yang sebetulnya bisa merampas masa kanak-kanak mereka yang teramat singkat itu. Entah itu melakoni kursus tari, piano, dan renang, bahasa asing, mengaji, atau kegiatan sejenis lainnya. Jika porsinya sesuai kebutuhan, tentu hal yang baik. Celakanya, tak sedikit orangtua yang lupa bahwa sesuatu yang berlebihan justru akan berbuah petaka.

“Yang saya tulis di puisi “Pelajar 2000” benar terjadi sekarang. Banyak pelajar mati bunuh diri,” kata penggemar sastrawan Mochtar Lubis, Buya Hamka, Kawabata Yasunari, dan Louisa May Alcott ini

Dan sebagai pelampiasan kejenuhannya, kala itu ia berlari ke Pantai Sanur dan Kuta untuk menulis. “Melihat pantai, debur ombak, dan saya menulis saja. Inspirasi mengalir seperti air,” ungkap Aan sembari tersenyum. Pantai merupakan tempat favoritnya. Imajinasinya seakan berlayar tanpa batas.

Sejak kelas dua SD

Sajak “Pelajar 2000”’ adalah satu dari ratusan sajak yang ia tulis. Darah seni menulisnya mengalir dari keluarga sang ayah, Badril Anwar, yang notabene keluarga wartawan. Belum lagi sang bunda, Zuldarmi, yang juga mendukung kecintaannya terhadap dunia literasi.

Kelihaian menulis sudah ia tunjukkan sejak kelas dua sekolah dasar (SD). Aan masih ingat betul, tulisan yang pertama kali dipublikasikan di media adalah sajak “Sakit”. Sajak itu ia tulis saat mengidap penyakit Asmathis Bronchitis, sebagai ungkapan rasa bosannya karena setiap hari harus melahap butiran obat. Berkat dorongan keluarga, karya perdananya itu ia kirim ke Majalah Si Kuncung. Bak gayung bersambut, banyak media yang juga menerbitkan karya-karyanya. Seperti, majalah BoboSuara Karya, dan Bali Post. Aan cilik pun akhirnya dikenal sebagai penulis sajak ternama di Bali.

Puncak kariernya sebagai penulis kecil ia dapatkan saat di bangku SMP, setelah karyanya diterbitkan dalam Antologi Doa Bali Tercinta dan Rindu Anak Mendulang Kasih. Buku kedua juga diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka. Di masa itu ia juga kerap diundang sebagai narasumber penggerak sastra remaja di Denpasar.

Ketika dibentuk Sanggar Sastra Cipta Budaya yang menghimpun para pencipta sastra di SMP 1 Denpasar, Aan menjadi ketua sanggar pertama.  ‘Kami  naik angkot keliling sampai ke kabupaten dan  sekolah lain untuk bicara soal sastra,” kenang Aan lagi. Acara tersebut dipandu gurunya, G.M. Soekawidana dan Umbu Landu Paranggi, dari Bali Post.

Beranjak sekolah menengah atas (SMA), ia tetap menciptakan puluhan sajak. Bahkan juga cerita pendek dan cerita bersambung. Karyanya sering menghiasi majalah GadisFemina, Anita Cemerlang, Kartini, Sarinah, Mode, Aneka Ria, Ceria, dan lain-lain. Salah satu sajak yang ia tulis saat SMA misalnya, berjudul “Tembang Ragani”.

“Lengkung klasik di bibir senja merangkai halusinasi. Alangkah damai dunia berpadu dikecup kasih sayang,” seru peraih juara I dan II dari lomba cerpen dan Cerber di Majalah Gadis ini melantunkan sajak “Tembang Ragani”.

Prestasi sastra Aan makin gemilang tatkala ia didapuk menjadi 10 besar pengarang puisi terbaik dalam peringatan Apartheid tahun 1987 yang dihelat oleh United Nation of Information Center PBB.

Lulus SMA, Aan masuk jurusan Budi Daya Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan. Ia pun berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 1992. Tiga tahun bekerja sebagai tenaga ahli sertifikat A dan B Analisis Dampak Lingkungan, baru pada tahun 1995 ia  diterima di DJP. Karier pertamanya dimulai sebagai pelaksana di KPP Cakung, Kasubsi di KPP Gambir Dua, Kasi di Kanwil 7, Kanwil Khusus, dan Direktorat Peraturan Perpajakan II. Ketika menjadi Kepala KPP Demak, bersama semangat seluruh kantor, mereka berhasil meraih juara kantor pelayanan percontohan (KPPc)  tingkat Kanwil dan juara II Nasional 2013-2014. Kantornya juga pernah menjadi Juara II Kantor Terbersih di bawah RSUD, berdasar tim penilai pemda Demak.

Bekerja di institusi yang bertanggung jawab pada kelangsungan dapur negara membuat Aan banyak belajar tentang makna melayani dan pengabdian. Ia pun jatuh cinta dan tenggelam dalam pekerjaannya yang baru ini. Kecintaannya pada menulis tetap ia salurkan, seperti ketika ia bertugas di Kanwil Khusus. Ia menulis skenario untuk lomba skenario profil kantor wilayah se-Indonesia. Berbekal pelatihan menulis skenario di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Aan pun membawa Kanwil Khusus keperingkat lima.  “Tapi itu menurut saya bukan nulis, ya. Tidak sesulit menulis,” kilah istri dari Haryo Abduh Suryo Negoro ini.

Saat menjadi kepala KPP Semarang Barat, ia  menuliskan sajak di Aula Cinta, bertuliskan, “Cinta Ada dalam DOA. Tanggung jawab Ada dalam RASA. Pajak Ada dalam DADA”.

“Saya berharap setiap ada acara di sana, kalimat tersebut menggugah mereka untuk sadar pajak,” tambah Aan.

Juli 2016, Aan dimutasi sebagai Kasubdit Penyuluhan P2humas DJP. Sejak awal 2017 tulisannya mulai menghiasi Majalah Pajak. “Saya senang nulis di rubrik Taxlight MajalahPajak ini. Sebelum menulis harus baca dua buku dulu,” tambah perempuan lulusan Magister di Denver University, USA tahun 1992 ini sembari membuka-buka lembar Majalah Pajak di tangannya.

 

“Target utama pajak adalah tercapainya penerimaan pajak. Penerimaan mustahil tercapai tanpa adanya kepatuhan. Tapi kepatuhan belum tentu mencerminkan kesadaran.”

 

Inklusi perpajakan

Saat ini Aan gencar menyosialisasikan inklusi perpajakan untuk mengedukasi generasi muda Indonesia. Tahun 2016, inklusi perpajakan sudah masuk di buku pelajaran Mata Kuliah Wajib Umum untuk Perguruan Tinggi. Bahkan, rencananya pada Juli 2017 mendatang, inklusi perpajakan sudah masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Inklusi perpajakan merupakan program sejak 2014, sinergi antara DJP dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek). Sehingga, inklusi perpajakan merupakan estafet program dari pemimpin sebelumnya yang diemban Aan saat ini.

“Konsepnya berjenjang dari sekolah dasar, menengah hingga tinggi. Di tingkat dasar tidak diajarkan hitung-hitungan. Disepakati bahwa inklusi perpajakan adalah konsep berbagi dan keikhlasan. Diharapkan dengan aktivitas simulasi, kecintaan pajak dimasukkan ke semua pelajaran nantinya, ” jelas penerima gelar Certified Mind Therapist dari SBMS Institute di tahun 2016 ini.

Aan menjelaskan, inklusi perpajakan dilatarbelakangi oleh rendahnya rasio pajak Indonesia selama ini. Rasio pajak masih di bawah negara lain. Apabila tahun 2015 lalu rasio pajak masih 10-11%, maka adanya  tim reformasi perpajakan diharapkan meningkatkan rasio pajak menjadi 14-15% kurun waktu 4 tahun ke depan. Melalui inklusi perpajakan, ia berharap kesadaran pajak masyarakat Indonesia kian terbangun sehingga penerimaan pajak dapat tercapai sesuai target yang ditetapkan.

 “Target utama pajak adalah tercapainya penerimaan pajak. Penerimaan mustahil tercapai tanpa adanya kepatuhan. Tapi kepatuhan belum tentu mencerminkan kesadaran. Sehingga awareness perpajakan harus diimbangi pengetahuan untuk terjadinya kepatuhan real,” ia mengutip hasil sebuah penelitian.

“Mengedukasi kesadaran perpajakan bukan hal mudah. Masih banyak PR untuk membangun kesadaran pajak dan harus dipupuk melalui pendidikan sejak dini. Pekerjaan rumah itu adalah tantangan terbesar DJP,” jelas ibu dari Harits Amin Syifa Hanza dan Alma Putri Nashrida ini.

Terakhir, sebelum mengakhiri bincang santai kami, Aan meyakini bahwa “Hidup ini seperti Pola. Setiap masa memilki benang merah ke masa lainnya. Waktu SD, saya pernah ikut Lomba Menulis Pajak. Ga menang, tapi dapat piagam yang ditandatangani Menteri Keuangan waktu itu. Belasan tahun kemudian, saya diterima di DJP.  Sewaktu di Demak, kantor kami mengusung tagline ‘Demak Bersajak (Bersama Sadar Pajak)’. Ga  nyangka sekarang berhadapan dengan inti dari kesadaran pajak tersebut.  Itu membuat saya mikir. Berarti tugas kita itu menemukan tujuan pola hidup ya?” senyumnya mengurai.